Selasa, 21 April 2015

Elegi Hemostatis Karya Wira Setianagara


    Kali ini gue si penulis labil bakal nge-share satu buah puisi yang amat sangat dalam artinya yang membuat gue tenggelam dalam lautan kata. Puisi ini di karang seorang Wira Setianagara , salah satu peserta Stand Up Comedy Season 5 yang sekarang lagi tayang di Kompas Tv. Jujur dari awal gue liat dia di Kompas Tv, yaitu saat Audisi SUCI5 di Yogjakarta. Gue udah punya firasat, ini orang bakal jadi Calon pemenang. Dia adalah satu-satunya Comic yang menambahkan "Puisi" ke dalam materi Stand Up Comedynya dan itu menjadi ciri khas dirinya saat tampil di panggung.

    Gue itu kalau udah suka, pasti langsung gue cari sampe akar-akarnya. Ibarat kaya suka cewe, gue juga selalu nyari akun sosial media yang dia punya, terus dari temen-temennya gue tanya dimana rumahnya dan apa hal yang dia suka. Ya ini sama, gue udah menjadikan orang ini sebagai idola gue setelah Raditya Dika. Jujur gue gak terlalu suka sama artis-artis Indonesia yang sekarang ini. Tapi ada beberapa artis Indonesia juga sih yang gue suka. Yaitu Raditya Dika, Fatin Shidqia Lubis dan sekarang nambah lagi, Wira Setianagara. 


    Setelah gue tau alamat Twitter, Facebook, Soundclound, dan beberapa akun sosial media bang Wira Setianagara ini, gue makin jatuh cinta sama karya-karya dia. Gue bukannya Homo, tapi ini gue kagum aja sama puisi-puisi dia, cara dia nanggepin fans, gambar-gambar yang dia buat, ya sama halnya seperti awal gue mengagumi seorang Raditya Dika yang gue kagumi adalah tulisannya yang membuat gue tertawa terbahak-bahak, dia juga jago akting, bisa jadi sutradara, film yang dia bikin juga kece abis. Ya gue harap seorang Wira Setianagara ini akan lebih terkenal dari sekarang. Entah itu lewat puisinya ataupun lewat standupcomedynya.

   Oke langsung aja deh, ini adalah salah satu puisi bang Wira Setianagara yang gue dapat dari Sound Cloundnya dia di https://soundcloud.com/wiranagara , silahkan kalian juga buka. Ada beberapa karya dia yang dia publikasikan. Tapi sayangnya gue gak bisa download rekaman puisinya tersebut, tapi gue mencoba mencatat bait perbait dan inilah hasilnya ....


Terkadang tangis tidak selalu mengurai luka
Ia juga mengisyaratkan bahagia dalam derai air mata.

Seperti saat ini
kala kau hadir ditengah-tengah sepi.

menegaskan bila tak bisa melupakanmu
bukan berarti aku tidak bisa menemukan cinta yang baru.

Sebab rindu ini bagai pualam
Aku membiasakan ia tergesek beragam rasa agar berkilau tak seragam.

agar hati tak menjadi jeruji
tanpa warna yang bergantian menghiasi.

Cinta ... Hadir mu ada menyajikan suatu karunia
Ya ... Aku jatuh cinta
Kelip bintang dan terang bulan terasa biasa.

entahlah . . .
mungkin meraka kalah meriah oleh hatiku yang kian merekah.

melangkah keluar dari parumu yang menghimpit sesak
menyapu debu-debu masa lalu yang menyangkut di sudut riak.

mendorongnya hinga kerongkongan
membersihkan sisa janjimu yang masih menempel di perasaan.

bermuara pada mulut
mengumpulkan pahit.

mengeja secara urut
membuang semua rasa sakit.

CUH ....
Ludah itu untukmu
dan semua masa laluku.

berpindah melawan arus rindu yang biasanya
mengalahkan keinginan untuk mencintaimu selamanya.

menggedor beribu pintu
menawarkan cinta yang baru.

bersiap untuk berjuta kenyamanan saat hadir dipersilahkan
berpeluk kembali pada setiap kecewa yang jatuh saat penolakan.

tak masalah ... bagiku itu lebih terpuji daripada hidup di hatimu lagi
sebab kini ... malamku ... bukan lagi tentang kau

singgah ke setiap hati dengan mengguncah
mencari yang paling tepat
kadang lupa mencari sampai melupa hati yang paling dekat.

menyusuri ruang penasaran terbaik
berpasrah akan perasaan yang di bolak-balik.

berputar hebat merotasi waktu
sampai telah datang pesona gugup menunggu akan hadir sebuah temu.

memberi kejutan yang menyenangkan
memberi pelukan yang menenagkan.

mengakhiri dengan kecup
menegaskan masa lalu telah ku tutup.

sampai menetap dengan indah pada satu hati
di satu cinta yang mendiami.

setia pada pilihan walau jauh dari kesempurnaan
sebab bahagia itu diciptakan bukan ditemukan.

bertanggung jawab secara adil pada setiap keping hatinya yang aku ambil
bertanggung jawab secar apenuh agar hubungan tetap utuh.

menjadi alasan satu-satunya cinta yang jatuh
tanpa memaksa harapan lain harus runtuh.

menjagamu tetap utuh dipelukanku
hingga terlepas oleh kehendak waktu.

karna kamu kini adalah kamu ...
bukan lagi tentang dia ...

elegi hemostatis ...
karya Wira Nagara.


     Jujur pertama gue mendengarnya gue merinding bukan main. Hampir 3 hari ini gue selalu play puisinya bang Wira Setianagara ini sebelum gue tidur. Karena apa? Karena sebelum tidur itu adalah saat tersunyi buat gue, setia perkataan akan terdengar sebelum gue tidur. Entah itu lagu, suara seseorang yang sekarang sudah tidak pernah gue dengar lagi atau apapun itu. Tapi tau gak, perkataan yang kira dengar sebelum tidur itu adalah perkataan yang akan membekas dan di ingat oleh otak kita sepanjang hari selama beberapa hari dan kita selalu ingin mendengarkannya berulang-ulang. Itu adalah hal yang terjadi oleh gue sendiri.

    So buat kalian para blogger yang penasaran sama Wira Setianagara ini, kalian bisa buka Google dan tulis "Wira Nagara" maka akan muncul barisan-barisan media sosial dia. Untuk mendengarkan puisinya dia yang gue tulis di Blog gue ini, kalian bisa langsung buka https://soundcloud.com/wiranagara dan muncul deh 3 puisi dia :3

    Sekian dulu tulisan gue ini, maaf sebelumnya kalau ada salah-salah kata. Maaf juga buat bang Wira Setianagara karyanya gue posting disini tanpa minta ijin dahulu ke abang, kalau kurang berkenan, nanti artikel ini akan gue hapus bang (Kaya iya aja seorang Wira Setianagara akan membuang waktunya untuk membaca tulisan gue yang tidak berbobot ini :v).
Sampai jumpa di postingan gue selanjutnya .... Salam Penulis Labil : Noor Azmi Fachri Hauzan


Follow twitter gue di : @NoorAzmiFachri_